Suara lantunan doa dan ayat suci Al-Quran kembali mengisi atmosfer pagi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ishlah pada hari Kamis, 16 Oktober 2025 (23 Rabiul Akhir 1447 H). Sebagai fondasi sebelum memulai kegiatan belajar, program pembiasaan pagi yang rutin dilaksanakan menjadi cerminan komitmen madrasah dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Dimulai dengan sholat Dhuha dan praktik sholat wajib, para siswa kemudian diajak untuk memanjatkan doa tulus untuk orang tua, guru, teman, dan diri sendiri. Sebuah praktik unik yang menjadi ciri khas madrasah, yaitu mendoakan diri sendiri dengan membaca Al-Fatihah seraya mengusap dada, kembali diajarkan untuk menumbuhkan rasa syukur dan ketenangan jiwa.
Setelah hati ditenangkan melalui zikir dan doa, kegiatan dilanjutkan dengan penguatan literasi Al-Quran melalui tadarus bersama halaman 284 hingga 290, yang diikuti dengan murojaah (mengulang hafalan) Surat Al-Qalam. Puncak dari pembiasaan pagi ini adalah sesi amanat yang disampaikan langsung oleh Kepala Madrasah, Bapak Drs. Kiagus Ahmad Ismail. Beliau mengawali dengan pendekatan personal, menanyakan kepatuhan siswa dalam melaksanakan sholat wajib di rumah, yang menegaskan bahwa pendidikan karakter di MI Al-Ishlah adalah sebuah sinergi berkelanjutan antara madrasah dan keluarga.
Inti amanat yang disampaikan kali ini berfokus pada salah satu adab terpenting dalam kehidupan seorang Muslim: menjaga lisan. Bapak Kiagus Ahmad Ismail mengingatkan ratusan siswanya bahwa keselamatan dan kemuliaan seseorang sangat bergantung pada apa yang diucapkannya. Untuk menguatkan pesannya, beliau menyampaikan sebuah hadis yang sarat makna:
سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فى حِفْظِ اللِّسَانِ
“Salāmatul insāni fī hifzhil lisān,” yang artinya, “Keselamatan manusia itu tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” Beliau juga mengaitkan pesan ini dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran, Surat Al-Hujurat ayat 12, yang secara tegas melarang perbuatan berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing—semua perbuatan yang berasal dari lisan yang tidak terjaga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Al-Ḥujurāt [49]:12
Sebagai wujud nyata dari pendidikan yang aplikatif, Bapak Kepala Madrasah memberikan sebuah tugas mulia kepada seluruh siswa. “Hadis yang kita pelajari hari ini, mohon disampaikan dan dibacakan kembali kepada Ayah dan Bunda di rumah,” pesan beliau. Metode ini secara efektif menjadikan siswa sebagai penyampai pesan kebaikan sekaligus memperkuat ikatan edukasi antara anak dan orang tua. Sesi amanat ditutup dengan momen yang sangat khusyuk, di mana seluruh siswa serentak mengangkat tangan, berdoa bersama memohon perlindungan Allah SWT agar lisan mereka senantiasa terjaga dari perkataan yang menyakitkan dan tidak bermanfaat.
Kegiatan pembiasaan pagi yang diakhiri dengan pembacaan doa Al-Quran ini lebih dari sekadar rutinitas; ini adalah wujud nyata dari visi MI Al-Ishlah. Madrasah secara konsisten membuktikan bahwa pendidikan terbaik adalah yang mampu menyeimbangkan antara penguasaan ilmu pengetahuan dengan penanaman akhlakul karimah, mempersiapkan siswa untuk tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.





0 Comments