oleh Amalia Burhani W,S.Pd
Sebagai seorang pendidik di MI Al Ishlah, saya sering merenungkan bagaimana nilai-nilai luhur dapat tertanam kuat dalam diri murid-murid. Di masyarakat, kita sering mendengar diskusi hangat mengenai hubungan antara Islam dan Pancasila. Ada yang menganggapnya sebagai dua hal yang berbeda, padahal jika kita cermati kehidupan sehari-hari di sekolah, keduanya justru saling menguatkan dan berjalan beriringan tanpa celah.
Islam memberikan pondasi keimanan dan moral, sedangkan Pancasila menjadi wadah bersama dalam berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila bukanlah hal yang asing dari ajaran Islam, melainkan wujud nyata dari pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari. Di MI Al Ishlah, korelasi indah ini tidak hanya diajarkan di atas kertas atau papan tulis, tetapi hidup dan hadir dalam kebiasaan sederhana murid-murid setiap harinya.
Upacara Bendera: Wujud Cinta Tanah Air dan Ketakwaan
Setiap Senin pagi, murid-murid berdiri rapi menghadap sang saka Merah Putih dalam upacara bendera. Sikap khidmat mereka saat menyanyikan lagu nasional dan melafalkan Pancasila adalah cerminan dari Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sekaligus Sila Ketiga (Persatuan Indonesia).
Mencintai negara tempat tinggal dan tempat mencari ilmu adalah bagian dari karakter seorang beriman. Rasa syukur atas kemerdekaan dan kedamaian bangsa ini kita wujudkan dengan menghormati simbol-simbol negara.
Menghormati Guru: Meneladani Adab Menuntut Ilmu
Setiap kali berpapasan dengan guru, anak-anak dengan senyum hangat menyapa, menundukkan badan, dan mencium tangan. Kebiasaan ini sejalan dengan Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Dalam Islam, adab terhadap guru memegang posisi yang sangat tinggi. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ilmu tidak akan membawa keberkahan tanpa adanya rasa hormat kepada mereka yang mengajarkannya. Mendidik murid-murid untuk santun kepada guru adalah langkah awal membentuk generasi yang berakhlak mulia.
Mengantri dan Menghargai Teman: Keadilan dan Persaudaraan
Keindahan akhlak murid MI Al Ishlah juga terlihat saat memasuki Madrasah, berwudhu, sebelum-sesudah melaksanakan salat berjamaah di Masjid, atau saat beristirahat. Mereka belajar mengantri dengan sabar tanpa saling menyerobot. Di dalam kelas maupun di luar, mereka saling menghargai perbedaan, dan bermain bersama tanpa membeda-bedakan.
Sikap mengantri melatih keadilan dan ketertiban (Keadilan Sosial), sedangkan saling menghargai teman melatih persaudaraan dan kerukunan (Sila Ketiga dan Keempat). Allah SWT sendiri mengingatkan pentingnya saling menghargai dan tidak merendahkan sesama dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka…”
Menanamkan nilai Islam dan Pancasila tidak harus selalu lewat teori yang rumit. Melalui pembiasaan di Madrasah—seperti berdiri tegap saat upacara, bersabar dalam antrean, serta santun kepada guru dan teman—kita sedang menyiapkan murid-murid MI Al Ishlah menjadi pribadi yang taat beragama sekaligus warga negara yang baik. Islam dan Pancasila pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membentuk insan yang berakhlak karimah dan membawa manfaat bagi sesama.
“Good Manners Show the Beauty of Our Faith.”
Views: 7





0 Comments