Lewat Dongeng Kelapa dan Terong, MI Al-Ishlah Tanamkan Nilai Rendah Hati pada Murid

BANDUNG – Suasana pagi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ishlah pada hari Senin, 6 Oktober 2025 (14 Rabiul Akhir 1447 H), terasa khidmat seperti biasanya. Setelah lantunan ayat suci Al-Quran dari kegiatan tadarus dan murojaah hafalan bersama memenuhi udara, para Murid mendapatkan sajian rohani yang berbeda. Wakil Kepala Madrasah bidang Humas, Bapak Dede Maulana, S.Ag., mengambil momen tersebut untuk menyampaikan nasihat penting mengenai karakter melalui metode dongeng yang menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak.
Di hadapan ratusan Murid, Pak Dede memulai dongengnya tentang dua pohon yang hidup berdampingan: pohon kelapa yang sombong dan pohon terong yang rendah hati. Ia menggambarkan bagaimana pohon kelapa selalu membanggakan dirinya karena segala manfaat yang dimilikinya; batangnya yang tinggi dan kokoh untuk bangunan, daunnya yang rimbun untuk berbagai kerajinan, hingga buahnya yang banyak dan menyegarkan. Sementara itu, pohon terong digambarkan sebagai tanaman kecil yang seolah tak banyak memiliki kegunaan. Namun, cerita berubah ketika seorang manusia datang. Untuk mengambil buahnya, manusia itu melukai batang kelapa dengan golok untuk membuat pijakan. Buahnya pun dipetik dengan kasar hingga jatuh terbanting, lalu dagingnya diparut dan direbus dalam air mendidih—sebuah proses yang menyakitkan. Sebaliknya, pohon terong diperlakukan dengan penuh kelembutan; buahnya dipetik satu per satu dengan hati-hati.
Puncak dari dongeng ini adalah ketika kelapa parut dan buah terong bertemu dalam satu masakan. “Meskipun kelapa merasa paling hebat dan berkontribusi banyak, hidangan itu dinamakan ‘Sayur Terong’, bukan ‘Sayur Kelapa’,” jelas Pak Dede. Dari analogi sederhana ini, ia menarik sebuah kesimpulan yang mendalam bagi para Murid. “Kesimpulan dari dongeng ini adalah kita harus senantiasa bersikap rendah hati. Jangan pernah sombong dengan kelebihan yang kita miliki, karena kerendahan hati justru akan membuat kita lebih dihargai dan disayangi,” tuturnya. Beliau juga berpesan agar para Murid selalu memvisualisasikan diri sebagai orang baik yang disayangi, yang artinya secara sadar memilih untuk berbuat baik dan menebar manfaat dengan tulus. Metode penyampaian nasihat melalui dongeng ini menjadi bukti komitmen MI Al-Ishlah dalam menanamkan pendidikan karakter dengan cara yang kreatif, relevan, dan membekas di hati para Muridnya.





0 Comments