Oleh: Muhammad Sofwan Ashfia Maulana, S.Hum (Guru IPAS)
Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memiliki jejak sejarah yang panjang dan sarat akan nilai perjuangan. Masuk secara bertahap sejak abad ke-7 Masehi, Islam mulai berkembang pesat pada abad ke-13 seiring berdirinya Kesultanan Samudera Pasai di Aceh dengan raja pertamanya, Sultan Malik As-Saleh. Penyebaran Islam mengalir secara alami mengikuti jalur perdagangan laut dan darat dari wilayah barat menuju kepulauan Nusantara—mulai dari pesisir Sumatera, Malaka, Selat Sunda, hingga menyebar ke Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara.
Di Pulau Jawa, perkembangan Islam ditandai secara formal dengan berdirinya Kesultanan Demak Bintara pada akhir abad ke-15. Selain Demak, institusi keagamaan seperti Giri Kedaton di Gresik turut memegang peranan penting dalam mencetak para dai yang dikirim hingga ke kawasan timur Indonesia.
Ulama Sebagai Motor Penggerak Perlawanan Kolonial
Meski sempat mengalami tekanan geopolitik di bawah pengaruh VOC Belanda pada abad ke-17 hingga 18, semangat perlawanan umat Islam tidak pernah padam. Pada abad ke-19, Islam menjadi spirit utama dalam Perang Paderi di Sumatera Barat serta Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Perjuangan Pangeran Diponegoro yang menyatukan agenda Islam dan Nasionalisme bahkan menginspirasi para tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh sejarawan Peter Carey, lukisan Pangeran Diponegoro kerap diabadikan oleh para aktivis kemerdekaan di ruang-ruang mereka sebagai simbol keteladanan.
Mengapa sosok ulama mampu menjadi ‘roda penggerak’ utama dalam perlawanan terhadap penjajahan? Hal ini dikarenakan ulama menduduki dua posisi strategis sekaligus di tengah masyarakat:
- Sebagai Cendekiawan (Ilmuwan): Kapabilitas keilmuan yang dimiliki menjadikan setiap ucapan dan fatwa ulama sebagai rujukan moral serta legitimasi hukum yang kuat.
- Sebagai Pemimpin Sosial: Posisi ulama sebagai pemuka agama memberi mereka legitimasi dan kemampuan sosial untuk memobilisasi umat dalam membela kebenaran dan keadilan.
Jejak Sejarah: Dari Fisik Hingga Pergerakan Moderat
Sejarah mencatat banyak tokoh ulama yang berdiri di garis depan melawan kolonialisme. Kyai Maja menjadi panglima perang Pangeran Diponegoro; Ki Haji Wasyid, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Abdulgani memimpin Pergerakan Petani Banten pada tahun 1888; serta para ulama Aceh yang memimpin Perang Aceh (1871–1905).
Memasuki abad ke-20, strategi perjuangan bertransformasi dari perlawanan fisik menjadi pergerakan modern melalui pembentukan organisasi pendidikan dan kemasyarakatan. Berdirilah lembaga-lembaga perjuangan seperti Jamiatul Khair (1905), Sarekat Islam (1905), Muhammadiyah (1911), Persatuan Islam (1923), Nahdlatul Ulama (1926), Majelis Islam ‘Ala Indonesia (1938), hingga Masyumi (1942).
Tak berhenti sebelum kemerdekaan, para ulama juga pasang badan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Salah satu momentum monumental adalah dicetuskannya “Resolusi Jihad” oleh para ulama Nahdlatul Ulama. Fatwa ini membakar semangat para pejuang dan rakyat, khususnya di Jawa Timur, yang berpuncak pada peristiwa bersejarah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Refleksi Bagi Generasi Muda Madrasah
Melihat rekam jejak perjuangan yang begitu besar, sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus mengisi kemerdekaan ini dengan terus belajar, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi bangsa.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa “Ulama adalah pewaris para nabi“, maka meneladani keberanian, keikhlasan, dan wawasan luas para ulama adalah cara terbaik bagi para murid MI Al-Ishlah untuk meneruskan estafet perjuangan mereka di era modern ini.
Views: 14



0 Comments