Oleh: Hari Rahmad Bakhtiar, S.Pd

Di tengah derasnya arus informasi, menjadi seorang guru bukan lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru kini juga memikul tanggung jawab besar untuk membentuk karakter murid agar tetap mencintai bangsanya. Tantangan ini semakin terasa ketika berbagai informasi, opini, bahkan paham yang dapat memecah persatuan begitu mudah diakses melalui media sosial.
Belakangan ini, kita sering menyaksikan perdebatan di ruang digital yang berujung pada saling menghina, menyebarkan kebencian, hingga meremehkan bangsa sendiri. Sebagian anak bahkan lebih mengenal budaya luar dibandingkan sejarah, bahasa, dan kekayaan negeri tempat mereka dilahirkan. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa semangat nasionalisme harus terus ditanamkan sejak usia dini.
Sebagai umat Islam, kita memiliki teladan terbaik, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau harus meninggalkan Kota Makkah dalam peristiwa hijrah, beliau menunjukkan kecintaan yang begitu besar kepada tanah kelahirannya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah mengungkapkan bahwa Makkah adalah negeri yang sangat beliau cintai. Namun, karena keadaan yang memaksa, beliau harus berhijrah demi menjaga keimanan dan keselamatan umat.
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa mencintai tanah air bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, rasa cinta terhadap tempat tinggal merupakan fitrah manusia. Islam mengajarkan agar kecintaan itu diwujudkan dalam bentuk menjaga kedamaian, membangun masyarakat, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Setiap hari, guru tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta tanah air melalui keteladanan. Menghormati bendera Merah Putih, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, mencintai produk dalam negeri, menjaga lingkungan sekolah, hingga menghargai perbedaan merupakan bentuk sederhana nasionalisme yang dapat dibiasakan sejak di bangku Madrasah Ibtidaiyah.
Anak-anak tidak membutuhkan ceramah panjang tentang nasionalisme. Mereka membutuhkan contoh nyata. Ketika guru datang tepat waktu, menjaga kebersihan sekolah, menghormati sesama, serta berbicara santun, sesungguhnya guru sedang mengajarkan cinta kepada bangsa. Karakter yang kuat lahir dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten.

Di era digital, pendidikan karakter juga harus mengikuti perkembangan zaman. Guru dan orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan gawai secara bijak. Media sosial dapat menjadi sarana belajar dan berkarya, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi informasi yang menyesatkan jika tidak disikapi dengan kritis. Oleh karena itu, literasi digital menjadi bagian penting dalam menumbuhkan nasionalisme generasi muda.
Sebagai warga madrasah, kita memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki semangat mencintai Indonesia. Anak-anak yang mencintai agamanya akan menjaga akhlaknya, dan anak-anak yang mencintai tanah airnya akan menjaga persatuan bangsanya. Keduanya berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Mari kita jadikan madrasah sebagai tempat tumbuhnya generasi yang bangga menjadi Muslim sekaligus bangga menjadi anak Indonesia. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang cerdas, tetapi juga oleh mereka yang mencintai negerinya dan rela berkontribusi demi kemajuan bersama.
“Menjadi anak Indonesia adalah anugerah. Menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan mencintai tanah air adalah ikhtiar yang harus terus kita tanamkan sejak dini.”
Views: 1





0 Comments